Kamis, 24 November 2011

Pada 2012 Pondokan Haji Kemungkinan Lebih Jauh





Hidayatullah.com--Pondokan jamaah calon haji Indonesia tahun 2012 ada kemungkinan lebih jauh dari Masjidil Haram, menyusul akan dibangunnya jalan lingkar luar oleh pemerintah setempat, sehingga banyak bangunan dibongkar.
"Sebanyak 1.750 rumah akan segera dibongkar usai musim haji tahun ini," kata Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekkah Arsyad Hidayat di Mekkah, Selasa (22/11/2011).


MUI: Pemerintah Harus Serius Atasi Prostitusi Anak Sekolah



Hidayatullah.com--Maraknya bisnis prostitusi yang melibatkan pelajar di Kota Tarakan mengundang keprihatinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan. MUI meminta Pemkot Tarakan serius mengatasi persoalan ini.
 Ketua I MUI Tarakan, Syamsi Sarman mengatakan, prostitusi ABG ini sangat mencemaskan banyak orang tua. "Karena aksinya yang dilakukan secara terselubung, takutnya anaknya terlibat, sementara mereka (orang tua) tidak mengetahui,” ujar Syamsi Sarman yang juga ketua PD Muhammadiyah Kota Tarakan dikutip JPPN, Kamis (24/11/2011).


Rabu, 23 November 2011

Facebook Status Anak Kita




Oleh: Mohammad Fauzil Adhim 
 
SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.


Survei: Muslimah Belanda Berjilbab dengan Sukarela





Hidayatullah.com--Sebuah survei atas wanita Muslim dari seluruh penjuru negeri Belanda menunjukkan bahwa sebagian besar pemakai jilbab mengenakannya atas keinginan pribadi mereka. Hasil survei menunjukkan, enam dari sepuluh wanita Muslim berusia 15 hingga 35 tahun di Belanda mengenakan kerudung. Sebagian besar Muslimah berkerudung, mulai mengenakannya pada usia 19 tahun dan bukan pada usia lebih dini. Hal ini bertentangan dengan keyakinan publik negeri kincir angin selama ini, yang menyangka mereka mulai mengenakannya pada usia belia.

Minggu, 13 November 2011

Provokasi, Sekali Lagi Provokasi! (Pemutar balikan Fakta)

 
Oleh: Amran Nasution *


       Kiranjit Ahluwalia memang membunuh Deepak. Suatu malam di bulan Mei 1989, ketika sang suami tidur lelap ia siram kedua kakinya dengan bensin, ia sulut dengan korek api. Lima hari kemudian, Deepak menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Wanita beranak dua itu pun ditangkap polisi.
Pada mulanya peristiwa di Southall, pinggiran barat London ini, dianggap pembunuhan biasa. Pengadilan memvonis wanita asal Punjab, India, yang berimigrasi ke Inggris itu, dengan hukuman seumur hidup. Tapi guru bahasa Inggrisnya di penjara melaporkan kasusnya kepada seorang pengacara berpengaruh.
Dari sini cerita menjadi seru. Terutama setelah kelompok pembela hak perempuan Asia dan kulit hitam, Southall Black Sisters, aktif berdemonstrasi membela Kiranjit agar dibebaskan dari penjara. Pers berebut meliputnya, para ahli hukum memperdebatkannya, para kolumnis menganalisanya.
Ternyata Kiranjit adalah kisah wanita Timur yang tabah, mengabdi kepada suami, menjaga martabat keluarga, tapi provokasi demi provokasi dari Deepak berujung pembunuhan.
Deepak pecandu alkohol berat, punya hobi menyiksa istri. Kalau sudah marah apa yang ada di tangannya ia pukulkan, dan itu sering terjadi di depan mata dua anak mereka yang masih kecil. Ke mana pun Kiranjit lari, ia kejar sampai dapat dan babak-belur.
Itulah yang terjadi di malam nahas. Setelah puas menyiksa istrinya Deepak tertidur dalam mabuk beratnya. Ketika itu Kiranjit berpikir, baik kalau kaki Deepak ia bakar agar tak mampu lagi mengejarnya. Dengan demikian ia bisa lepas dari siksaan. Maka wanita yang sehari-hari bekerja menyortir surat di sebuah kantor pos, membakar kaki suaminya.
Pengadilan banding pada 1992, memvonis bebas Kiranjit yang telah tiga tahun mendekam di penjara. Hakim berpendapat ia memang tak berniat membunuh. Kata Kiranjit di depan sidang, ‘’Saya tak pernah berencana membunuhnya. Saya hanya ingin ia berhenti menyakiti saya.’’
Menurut hakim, peristiwa terjadi karena Kiranjit menderita depresi berat akibat perlakuan Deepak. Vonis ini kemudian seperti ditulis The Guardian, 4 April 2007, menjadi preseden sejarah hukum di Inggris. Tahun lalu, sutradara asal India di London, Jag Mundhra, mengangkat tragedi ini ke dalam film berjudul: Provoked: A True Story (Provokasi: Sebuah Kisah Nyata).
Bila diamati peristiwa Monas (Monumen Nasional), Minggu, 1 Juni 2008, kelompok Front Pembela Islam (FPI) adalah Kiranjit: pihak yang melakukan tindakan melawan hukum akibat tak tahan menghadapi provokasi demi provokasi para tokoh liberal yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).
Kelompok-kelompok Islam ini – termasuk MUI – sudah lama menjadi bulan-bulanan pemberitaan media massa yang lebih berpihak kepada kelompok liberal dan isu-isu yang mereka bawa. Mulai kasus RUU Pornografi dan Pornoaksi, berbagai aliran sesat, dan terakhir Ahmadiah.

Adnan Buyung Nasution, misalnya, seenaknya bilang MUI supaya dibubarkan karena mengeluarkan fatwa Ahmadiah. Penasehat Presiden itu mengejek-ejek salah seorang tokoh MUI yang tak lain koleganya sesama penasehat Presiden. Padahal dalam pandangan kelompok Islam ini, MUI harus dihormati karena merupakan kumpulan para ulama. Buyung beberapa kali menantang-nantang mereka dengan sangat emosional.
Tulisan para aktivis liberal di koran, majalah, atau wawancara di televisi, selalu menyerang atau mengejek-ejek mereka atau sesuatu yang mereka yakini dan muliakan. Di dalam selebaran untuk mengerahkan pendukungnya ke Monas, 1 Juni 2008, AKKBB menuduh kelompok anti --Ahmadiah adalah anti-- UUD dan Pancasila serta persatuan nasional. Mereka akan memaksakan rencana mendirikan negara Islam, mengganti dasar negara.
Di bawah pernyataan tercantum 289 nama, sejumlah di antaranya tokoh terkenal. Mulai Gus Dur, Goenawan Mohamad, Adnan Buyung Nasution, Marsilam Simanjuntak, Asmara Nababan, Rahman Tolong, Ulil Abshar Abdala, sampai Syafii Maarif dan Amien Rais. Selebaran dimuat di koran sebagai iklan, selain tersebar ke mana-mana. Itu amat meresahkan FPI, FUI, dan lainnya yang sejak lama berpendapat Ahmadiah harus dilarang karena mencederai Islam. Sebagaimana Kiranjit mereka tampaknya terus diprovokasi.
Amat wajar polisi berusaha agar massa kelompok FPI dan AKKBB tak bertemu ketika 1 Juni 2008, keduanya melakukan demonstrasi. Kenyataannya kelompok AKKBB tak peduli. Mereka seakan ingin berhadapan dengan kelompok FPI.
Kedutaan Besar Amerika
Siang itu di depan Istana Merdeka, massa Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), FPI, MMI, dan FUI, melakukan demo anti-kenaikan harga BBM. Dari arah Hotel Indonesia muncul massa AKKBB yang berdemo menentang pelarangan Ahmadiyah. Dari pengeras suara di atas mobil terdengar suara mengejek FPI sebagai ‘’laskar kapir’’, ‘’laskar setan’’.
Provokasi itu menyebabkan kelompok massa FPI yang dipimpin Munarman kehilangan kesabaran. Meski salah seorang dari massa AKKBB mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas sampai empat kali, tak ada gunanya. Saat itu pistol lebih berfungsi sebagai alat provokasi daripada pencegahan. Terjadilah insiden. Sejumlah massa AKKBB terluka, beberapa sempat dirawat di rumah sakit.
Bentrokan sesungguhnya kecil saja. Setidaknya lebih kecil dibanding banyak kerusuhan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Di Ternate, Maluku Utara, misalnya, sejumlah rumah dibakar. Sebelumnya, dalam pemilihan Bupati Tuban, Jawa Timur, bukan cuma rumah, pendopo bupati, kantor KPU, kantor partai, mobil dan beberapa properti lain dibakar. Apalagi kalau dibandingkan dengan kerusuhan Ambon, Poso, atau pembantaian orang Madura di Kalimantan.
Tapi kali ini hiruk-pikuknya bukan kepalang. Koran, radio, dan televisi menjadikannya berita utama dengan tema menyerang kelompok FPI. Ormas itu harus dibubarkan karena merupakan organisasi kekerasan.
Saking bersemangat, koran TEMPO memuat mencolok foto Munarman mencekik seseorang yang disebutnya anggota AKKBB, tanpa pengecekan. Ternyata Munarman sedang berusaha mencegah anggotanya sendiri berbuat anarkis. Berita foto itu sangat menjatuhkan Munarman dan tampaknya akan menjadi kasus hukum.
Demonstrasi menuntut pembubaran FPI pecah di pelbagai daerah terutama di Jawa Timur, basis Gus Dur. Berbagai tindak kekerasan diterima FPI daerah. Malah di Banyuwangi, mucikari dan pelacur turut berpartisipasi mendemo FPI.
Seakan negara dalam keadaan darurat, Presiden SBY tampil menyampaikan pernyataan resmi dari Istana. ‘’Negara tak boleh kalah oleh kekerasan,’’ katanya. Gaya penampilan Presiden, mimiknya, tekanan kalimatnya, menggambarkan seakan FPI dan kelompoknya telah melakukan kudeta.
Gaya Presiden yang berlebihan itu tambah memojokkan FPI.
Padahal kalau bentrok begitu saja harus ditanggapi Presiden langsung, setiap hari ia harus tampil. Ikutilah radio atau televisi, hampir setiap hari ada bentrok massa. Penyebabnya macam-macam, mulai Pilkada, demonstrasi BBM, tawuran antar-kampus atau antar-sekolah, tawuran antar-geng motor, rebutan lahan parkir, sampai sengketa tapal batas desa. Penyerbuan polisi ke Universitas Nasional, sebelumnya jauh lebih keras dari peristiwa Monas. Tapi Presiden diam saja.
Yang jelas bentrokan Monas menguntungkan pemerintah. Soalnya, FPI, Hizbut Thahrir Indonesia (HTI), dan ormas Islam lainnya, merencanakan demonstrasi besar-besaran anti-kenaikan harga BBM mulai 6 Juni 2007. Demonstrasi itu akan diteruskan dengan gerakan mogok massal nasional. Berbagai persiapan sudah dilakukan.
Ketika polisi menggerebek kantor FPI ditemukan segepok selebaran berjudul, ‘’Lumat SBY-YK’’. Lumat singkatan lima tuntutan ummat: batalkan kenaikan harga BBM, turunkan harga sembako, nasionalisasi aset negara yang dikuasai asing, bubarkan dan nyatakan Ahmadiyah sebagai organisasi terlarang, dan usir NAMRU-2 dari Indonesia serta bersihkan kabinet dari antek Amerika Serikat.
Melihat tema yang mereka usung, gerakan itu akan merepotkan pemerintah sekalian menyulut gerakan anti-Amerika di Indonesia. Aksi itu rupanya harus dicegat jangan sampai terjadi maka meletuslah peristiwa Monas.
Lihatlah aktivitas Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Jakarta. John Heffern, Kuasa Usahanya, sibuk mengunjungi korban dari AKKBB di Rumah Sakit Gatot Subroto. Keesokan hari, Kedubes mengirimkan pernyataan resmi ke media massa mengutuk aksi kekerasan Monas. Belum cukup. Pernyataan itu mengajari Pemerintah Indonesia agar menjunjung kebebasan beragama bagi warganya sesuai UUD. Itu jelas intervensi urusan dalam negeri Indonesia.
Bagaimana mungkin orang-orang Kedubes itu masih punya keberanian moral mengutuk kekerasan Monas, sementara negaranya adalah imperium kekerasan yang sudah membunuh 1 juta manusia di Iraq. Menangkap, menahan, dan menyiksa ratusan orang di Guantanamo, tanpa mengadilinya lalu diam-diam melepaskannya.
Pantas Naomi Wolf, aktivis dan kolumnis dari New York, penulis buku laris The Beauty Myth, menuduh negeri itu sedang menuju pemerintahan fasis (fascist shiff). Riset yang dilakukan wanita ini menemukan seluruh ciri-ciri pemerintahan Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, dan Augusto Pinochet di Chili, ada pada pemerintahan Bush.
Bagaimana mereka mengajari kebebasan beragama di Indonesia, padahal banyak pendeta dan pengikut Mormon mendekam di penjara Amerika karena melakukan poligami sesuai ajaran agama yang mereka yakini. Apa beda mereka dengan Ahmadiah? Pendeta David Koresh dan puluhan pengikutnya diledakkan polisi federal FBI sampai terbakar berkeping-keping karena mendirikan sekte Kristen sendiri. Masih ada cerita lain yang mengerikan seperti itu.
Di Guantanamo, Al-Quran mereka cemplungkan ke dalam WC – seakan hal lumrah – agar orang yang mereka periksa marah dan bicara terbuka. Dari pengakuan eks tahanan Guantanamo yang telah bebas, penghinaan Al-Quran jadi metode pemeriksaan tersendiri, selain berbagai model penyiksaan lainnya seperti waterboarding, menyiramkan air ke wajah sehingga korban sesak bernapas seakan tenggelam.
Di Iraq, tentaranya latihan menembak dengan Al-Quran sebagai target. Apakah mereka masih berhak bicara kebebasan beragama?

Muslim Indonesia di Bawah Tirani Media?






Oleh: Sarah Larasati Mantovani  
SECARA tidak sengaja, belum lama ini saya membaca artikel tulisan Andy Budiman berjudul “Dilema Media di Era Kebangkitan Agama Tersandera Tirani Mayoritas” di sebuah media online di Jerman, Qantara.de. Meski agak lama, namun artikel ini tetap menarik dijawab.
Andy, yang juga pendiri Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), ini berusaha memutar balikkan fakta dengan cara menuduh bahwa media sekarang terbelenggu oleh mayoritas Islam. Menurutnya, media tidak mampu berbuat apa-apa ketika kaum 'minoritas' mengalami tirani secara terus menerus dari pihak 'mayoritas'.
Sekedar diketahui, SEJUK , diluncurkan Januari 2011 di Jakarta Media Center, dengan menggelar diskusi bertema ”Prospek Demokrasi dan Kebebasan 2010” mendatangkan tokoh-tokoh paham liberal; Ulil Abshar Abdalla, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace Siti Musdah Mulia dan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Endy M Bayuni.
Dalam tulisannya, Andy Budiman menulis ‘kebangkitan kembali agama di Indonesia’ yang dinilai penuh dilema. Dilema, karena di balik kebangkitan Islam di Indonesia kini sedang dibelenggu sikap konservatif. 
Sayang, dibalik tulisannya yang mengada-ada ini, justru tidak 'menyehatkan' di saat umat beragama berusaha menjalin kerukunan dengan taat pada hukum yang berlaku.
Simak saja, pada alinea kedua di sub judul “Media di tengah kebangkitan agama”, Andy Budiman mengutip James Madison dalam Federalist Papers yang menulis: “Bahaya penindasan dalam demokrasi datang dari kelompok mayoritas.” Ia juga mengamini pendapat Alexis de Tocqueville yang mengingatkan bahaya bernama tirani mayoritas.
Patut dipertanyakan di sini, mayoritas mana yang dimaksud oleh James Madison dan Alexis de Tocqueville yang dikutip oleh Andy tersebut? Padahal, jika agama mayoritas yang dimaksud itu adalah Islam, maka hal ini bertentangan dengan database agama-agama dunia dan laporan Majalah TIME.
Jika kita mau melihat kembali data secara global, justru jumlah umat Islam kalah dengan populasi Kristen. Jumlah penganut agama terbesar di dunia masih ditempati oleh Kristen di peringkat pertama dengan jumlah penganut sekitar 2,25 miliar.
Sedangkan menurut laporan Majalah TIME yang berjudul Christianity's Surge in Indonesia yang ditulis oleh Hannach Beech (26/4/2010) bahwa jumlah umat Kristen di Asia meledak menjadi 351 juta pengikut pada tahun 2005, naik dari 101 juta pada tahun 1970 (Berdasarkan proyeksi Database Agama-Agama Dunia tahun 2005, jumlah orang Kristen di dunia sekitar 2,25 miliar.
Studi baru berdasarkan laporan berjudul "Mapping the Global Muslim Population", yang dilakukan Pew Forum on Religion & Public Life, saat ini ada sekitar 1,57 miliar orang Muslim di dunia. Jumlah itu merupakan 23 persen dari total penduduk dunia yang mencapai 6,8 miliar).
Oleh sebab itu, dalam konteks global siapakah yang disebut mayoritas dan minoritas?
Yang lebih menggelikan lagi, Andy Budiman juga mengutip berita fitnah kasus Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama & Berkeyakinan (AKKBB)  tahun 2008, di mana ada seorang wartawati yang bangga berfoto dengan Munarman, Komandan Laskar Islam kala itu. 
“Ketika tragedi Monas pecah dua tahun silam, seorang wartawati pulang ke ruang redaksi dan memamerkan foto dirinya bersama Munarman, Komandan Komando Laskar Islam, yang saat itu ditahan karena melakukan kekerasan terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama & Berkeyakinan (AKKBB). Wartawati itu dengan bangga menyebut bahwa Munarman adalah pahlawan Islam,” tulisnya.
Mungkin maksud Andy, haram bagi si wartawati menfigurkan sosok Munarman. Di mana saat itu media maenstrem saat itu bersepakat "mendudukan" FPI dan Munarman sebagai sosok "penjahat' berjuluk pelaku kekerasan agama.
Padahal,  dalam artikel opininya di hidayatullah.com (10/06/2008), Amran Nasution, mantan wartawan TEMPO menulis, bahwa tanpa pengecekan, koran TEMPO memuat foto mencolok Munarman mencekik seseorang yang disebutnya sebagai anggota AKKBB, padahal Munarman saat itu sedang mencegah anggotanya sendiri yang berbuat anarkis.
Jika semua kliping koran kasus itu di buka, hampir bisa ditemukan, semua koran-koran besar dan media online telah keliru memasang foto dan berita salah ini. Namun, tak pernah kami temukan, kata "maaf" atas kesalahan ini, baik sehari, seminggu sampai beberapa tahun peristiwa ini terjadi.
Artinya apa? artinya, meski media-media besar dan media maintream telah mempublikasikan berita yang salah,  mereka tetap ogah meminta maaf. Maklum, FPI dan Munarman, adalah kelompok radikal, dan tidak layak meminta maaf padanya.
Ini belum termasuk kasus "pria bersenjata yang menodongkan pistol" dari rombongan AKKBB yang dinilai pemicu bentrokan terjadi, yang akhirnya diabaikan media dan polisi. Sebab, dalam banyak tulisan dan reportasenya, media saat itu, lebih suka menggiring oponi agar FPI, Munarman dan Habib Rizieq Shihab segera ditangkap.
Sedang si 'pria bersenjata' yang ikut rombongan AKKBB itu tak pernah disentuh hukum dan ditelusuri oleh media-media mainstream hingga kasus ini ditelan massa.
Dari fakta-fakta yang dikemukakan, Andy secara tidak adil telah mengabaikan fakta-fakta tersebut.
Siapa mentirani siapa?

Entah apa maksud dan tujuannya, tapi yang jelas Andy Budiman seperti ingin memperlihatkan bahwa media dan wartawan Indonesia sekarang ini sedang di bawah “tirani” umat Islam yang disebutnya mayoritas. Padahal jika kita mau melihat kembali, bukankah umat Islam yang selama ini menjadi korban tirani media dan minoritas?.

Contohnya, seperti kasus yang pernah menimpa massa FPI akibat pemberitaan yang tidak berimbang dan tidak covered from both sides saat kerusuhan Ciketing Desember 2010 silam.

Kemudian pada saat umat Islam berusaha untuk membela agamanya dari penistaan dan penodaan agama, umat Islam dianggap telah melanggar hak konstitusional orang lain.

Contohnya, seperti yang terjadi pada kasus Ahmadiyah, saat saya menyaksikan acara Suara Anda: Suara Konstitusi tentang Pancasila di Metro TV, pada tanggal 27 April lalu, dengan pembicara Mahfud MD (Ketua Hakim MK), Yudi Latief (Penulis buku Negara Paripurna) dan Lukman Hakim (Wakil Ketua MPR).

Saat membicarakan tentang Pancasila sila pertama, Metro TV kembali menayangkan tentang Ahmadiyah dan isu “Operasi Sajadah” yang dilakukan oleh TNI terhadap Ahmadiyah, di tayangan itu pula Metro mengomentari bahwa Ahmadiyah telah dipenggal Hak Konstitusinya oleh para kepala daerah yang mengeluarkan Perda pelarangan terhadap aktivitas Jemaat Ahmadiyah, padahal di dalam Undang-Undang Dasar 1945 sudah jelas bahwa setiap orang mempunyai hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan.

Tapi ternyata menurut Undang-Undang Dasar, hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan tersebut tetap tidak boleh mengganggu hak orang lain (lihat pasal 28J ayat 2 tentang HAM).

Jadi, sebenarnya siapa men-tirani siapa?

Dilema Umat Islam

Sesungguhnya, yang mengalami tirani adalah umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia. Hal ini tentu sangat aneh, 'minoritas' mentirani 'mayoritas'. Bahkan, umumnya, media menjadi tirari baru kepada umat slam.Tapi itulah kenyataannya dan kenyataan ini berusaha dibalik oleh Andy.

Pada alinea ketiga, di sub-judul “Dalam Belenggu Mayoritas”, Andy Budiman juga menuliskan:

“Warga Kristen Indonesia berdemonstrasi di Jakarta terhadap semakin meningkatnya kekerasan bersifat keagamaan, yang terutama terjadi di Jawa Barat. Diskriminasi terhadap kelompok minoritas belakangan bahkan dijalankan aparatur pemerintahan secara sistematis.” 

Kalau benar adanya, kenapa Andy tidak mengungkap juga kasus kekerasan dan pemurtadan yang dialami oleh umat Muslim di Ambon? Akibat kekerasan SARA banyak masjid yang hangus dan ratusan rumah Muslim Ambon yang terbakar, sehingga mengakibatkan puluhan warga Muslim terluka dan beberapa di antaranya ada yang meninggal.  

Sebagai seorang jurnalis, seharusnya Andy bisa bersikap adil, sebagaimana tercantum dalam Kode Etik Wartawan Indonesia pasal 5 bahwa setiap wartawan harus menyajikan berita secara berimbang dan adil.

Apa yang dimaksud sistematis yang dimaksu Andy?
Tuduhannya seperti ini selain sebuah provokasi murahan juga bisa sebuah fitnah yang tak layak disampaikan oleh seorang berprofesi wartawan yang biasanya sangat hati-hati menyampaikan fakta.

Dari berbagai tulisannya, Andy Budiman juga nampak menampik fakta sejarah bahwa dari sejak Orde Lama hingga reformasi, aparatur pemerintah justru masih banyak menzalimi umat Islam dan belum memihak secara adil.

Apakah Andy lupa, bahwa dari sejak Republik ini lahir, umat Islam juga mengalami dilema dan diskriminasi dalam beragama. Pada jaman Orde Lama, tujuh kata “Kewajiban Menjalankan Syari'at Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya” pernah di hapus dari Piagam Jakarta, selain itu tujuh kata tersebut pernah tercantum dalam Pancasila sila Pertama tetapi kemudian diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan alasan yang hingga kini masih kontroversi bahwa pihak Kristen akan memisahkan diri dari Negara Indonesia.

Kemudian, seperti dilansir dari republikaonline (10/07/2011), umat Islam juga baru-baru ini mengalami diskriminasi, dimana hal ini terjadi pada siswa muslim di Sebuah SMP Negeri Selat Kuala Kapuas, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang dilarang untuk memakai jilbab oleh sekolah tersebut.

Yang terbaru, umat Islam yang ingin menjalankan syari'at Islam secara kaffah juga sudah dituduh yang bukan-bukan, seperti dicap fundamentalis, anti Pancasila dan “teroris”. Tapi apakah dengan tuduhan itu Islam dan melakukan kekerasan? Yang terjadi justru masyarakat sering menjadi korban stigma pers yang buru-buru menyebut seseorang dengan tuduhan ‘kelompok radikal’ atau ‘teroris’.

Jadi siapa tirani minoritas?

Memang, tidak mudah bagi wartawan dan media untuk menulis dan memuat berita dengan jernih dan sesuai dengan Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), apalagi yang berhubungan dengan SARA. Sedangkan bagi penikmat berita sendiri apalagi yang awam rasanya sangat sulit untuk membedakan mana berita yang benar karena kebanyakan media sekarang memuat berita hanya ingin menaikkan rating ataupun oplah, tidak perduli dengan akibat yang ditimbulkan dari yang diberitakannya tersebut.

Sudah cukup rasanya bagi umat Islam dibelenggu oleh berita-berita yang tidak adil dan tidak berimbang. Memang tidak mudah bagi wartawan untuk menulis dengan jernih di masa kebangkitan agama meski sudah menggunakan istilah "Aliansi Jurnalis untuk Keberagaman". Setidaknya, tulisan Andy Budiman telah memberikan saya pelajaran berharga, bagaimana Islam dan Rasulullah Muhammad bisa berlaku adil, bahkan terhadap musuh yang paling ia benci sekalipun.

Penulis adalah seorang jurnalis muda, tinggal di Jakarta

Selasa, 08 November 2011

Membangun Peradaban Tauhidi



 
Oleh: Ahmad Sadzali
Dalam bukunya Al-Madkhal ila Dirasah al-Madzahib al-Fiqhiyah, Prof. Dr. Ali Gomaa Muhammad menyatakan, “Peradaban Islam tidaklah mati, namun hanya tertidur saja. Sesuatu yang tidur pasti akan bangun kembali.” Pernyataan ini memberikan harapan besar kepada kita akan kebangkitan peradaban Islam. Akan tetapi kebangkitan peradaban itu tentu saja membutuhkan proses yang lama. Peradaban Islam seperti bagian dari sebuah roda yang selalu berputar. Jika dalam sejarahnya bagian roda itu sempat berada di bawah, maka suatu saat nanti ia akan kembali berada di atas.

Pembicaraan tentang peradaban memang tidak akan ada habisnya, terkhusus peradaban Islam. Topik peradaban secara umum selalu relevan untuk diperbincangkan di sepanjang zaman. Ini tidak lain karena manusia selalu bersinggungan dengan peradaban. Manusia adalah pelaku utama peradaban itu sendiri. Dan peradaban tanpa manusia tidak akan pernah ada. Begitu juga dengan topik peradaban Islam yang dianologikan seperti bagian dari roda yang berputar tadi, tidak akan pernah surut dari perbincangan manusia.

Peradaban manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Perkembangan peradaban tersebut tidak saja terjadi dalam ranah fisiknya saja, namun juga terjadi dalam ranah substansi. Sebagai contoh, pemahaman akan istilah peradaban saja sampai mengalami fase-fase yang cukup signifikan. Terlebih lagi jika terjadi persinggungan antara peradaban satu dengan yang lainnya.

Seiring dengan perjalanan hidup manusia yang sudah begitu panjang di muka bumi ini, maka berbagai macam peradaban pun telah terbentuk. Banyak peradaban yang telah mewarnai kehidupan manusia. Setiap peradaban tentu saja memiliki konsep tersendiri yang nantinya akan membedakan peradaban tersebut dengan peradaban lainnya. Sama halnya dengan peradaban lain, peradaban Islam juga memiliki konsep yang menjadikannya tampil berbeda dengan peradaban-peradaban lainnya.

Konsep peradaban ini sangat dibutuhkan dalam upaya membangkitkan kembali peradaban Islam. Untuk itulah tulisan ini mencoba sedikit memaparkan konsep peradaban Islam, atau pandangan Islam terhadap peradaban itu sendiri.

Dilema Definisi Peradaban

Definisi peradaban memang selalu menjadi problem. Latar belakang pengetahuan yang berbeda, akan sangat mempengaruhi pendefinisian peradaban. Istilah peradaban biasanya digunakan oleh sarjana-sarjana di bidang sejarah, antropologi, dan beberapa bidang keilmuan sosial lainnya. Namun dalam disiplin ilmu yang berbeda-beda itu, ternyata definisi peradaban juga lahir berbeda-beda, tidak satu definisi.

Dalam bahasa Perancis, peradaban biasanya disebut dengan civilisation. Sedangkan dalam bahasa Jerman, peradaban disebut kultur. Istilah cultur dalam bahasa Prancis menunjukkan arti kebudayaan, sama halnya dengan bahasa Inggris yang menggunakan istilah culture. Jadi bahasa Prancis membedakan istilah civilisation yang menunjukkan peradaban, dengan cultur yang menunjukkan kebudayaan. Sedangkan dalam bahasa Melayu, peradaban disebut dengan tamadun.

Setidaknya “civilization” memiliki tiga tahapan perkembangan definisi. Makna aslinya dikenalkan pertama kali dalam bahasa Prancis oleh beberapa penulis, seperi Voltaire, pada abad ke-18 Masehi. Kemudian para penulis di abad ke-19 Masehi semakin memperluas istilah “civilization” untuk mengartikan pertumbuhan melalui waktu pengetahuan dan keterampilan yang mendorong manusia untuk mencapai perilaku yang beradab. Selanjutnya istilah “civilization” dibawa ke dalam bahasa Inggris, dan mengalami generalisasi ide atau definisi hingga lebih plural.

Nasr Muhammad Arif, dalam bukunya Al-Hadharah, Ats-Tsaqofah, Al-Madaniyah telah meneliti istilah “civilization” dari bahasa asalnya, yaitu bahasa Latin. Dalam bahasa Latin terdapat istilah civites yang artinya kota; civis yang artinya orang yang tinggal di kota; dan civilis yang artinya sipil. Dan istilah “civilization” baru diambil dari bahasa Latin tersebut pada abad ke-18 Masehi.

Sarjana Barat sendiri berbeda-beda dalam mendefinisikan istilah “civilization”. Sebagai contoh dalam bukunya The Philosophy of Civilization, Albert Schweitzer menjelaskan bahwa peradaban adalah kemajuan spiritual dan materi pada setiap individu maupun kelompok. Schweitzer juga menjelaskan bahwa peradaban harus dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan semua orang dalam hidupnya. Tujuan peradaban adalah kesempurnaan spiritual dan moral individu.

Berbeda dengan Schweitzer yang menekankan peradaban pada pencapaian moral dan spiritual, Will Durant mengartikan peradaban sebagai sistem sosial yang membantu manusia untuk meningkatkan produksi kebudayaannya. Menurut Durant, peradaban terdiri dari empat unsur: sumber daya ekonomi, sistem politik, tradisi moral, serta ilmu dan kesenian.

Edward Burnett Tylor mengartikan peradaban sebagai adalah suatu kesatuan kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, adab, hukum adat, dan setiap kecakapan serta kebiasaan seseorang sebagai anggota masyarakat. Namun, sebagian orang menganggap definisi yang digariskan Tylor ini adalah untuk definisi kebudayaan. Dari definisi Tylor ini, akhirnya terjadi kerancuan dalam perbedaan antara peradaban dengan kebudayaan. Terkadang keduanya dimaknai sama.

Sedangkan Samuel Huntington memandang peradaban sebagai entitas budaya. Peradaban terdiri dari unsur-unsur yang kompleks, seperti bahasa, agama, sejarah, adat, lembaga, atau indentifikasi diri secara subjektif. Dalam pandangan Huntington ini, jika sekelompok manusia yang besar di suatu wilayah memiliki kesamaan seperti bahasa, agama dan adat, maka bisa disebut sebagai peradaban. Contohnya adalah Amerika dan Eropa yang sering disebut sebagai peradaban Barat.

Banyak lagi pendapat sarjana-sarjana Barat lainnya yang memberikan definisi terhadap peradaban. Definisi peradaban atau “civilization” dalam dunia pemikiran Barat mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ada yang menjadikan makna “civilization” sebagai sinonim dari kata “culture”, seperti Tylor tadi. Ada juga yang mempersempit definisi “civilization” hanya sebagai kemajuan materi. Ada juga yang memperluas definisinya menjadi kemajuan yang menyeluruh, melingkupi semua aspek kehidupan. Ada juga yang mempersempitnya lagi menjadi kemajuan individu saja. Ada juga yang memperluasnya sebagai kemajuan individu dan kelompok. Dan berbagai perkembangan definisi lainnya.

Selanjutnya istilah “civilization” ini mengalami persinggungan dengan bahasa Arab. Pada awal abad ke-19, kata “civilization” diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan istilah التمدن. Rifa’ah Ath-Thahthawi dalam bukunya Manahij al-Albab al-Mashriyah menggunakan istilah “tamaddun” untuk menunjukkan istilah “civilization” yang dipakai di Eropa. Ath-Thahthawi menyebutkan, tamaddun mengandung dua unsur asli: secara makna seperti akhlak dan adab, dan secara materi.

Kata “tamaddun” terus digunakan untuk menunjukkan “civilization” sampai kemudian berubah menjadi kata المدنية. Istilah “madaniyah” ini dipakai selama abad ke-19 dan abad ke-20. Pada tahun 1936, istilah “madaniyah” diartikan sebagai sebuah keadaan sosial budaya yang ditandai dengan kemajuan relatif dalam bidang kesenian, ilmu pengetahuan, manajemen pemerintahan. Lalu pada tahun 1957, istilah “madaniyah” digunakan untuk menunjukkan fenomena kemajuan fisik atau materi dalam kehidupan masyarakat.

Lalu pada pertengahan abad ke-20, kamus-kamus bahasa Arab mulai menerjemahkan kata “civilization” dengan arti حضارة. Dan pada masa ini hampir disepakati bahwa kata “hadharah” berarti sekumpulan fenomena sosial yang memiliki karakter fisik, ilmu, seni teknik yang ada dalam masyarakat, dan merupakan fase kemajuan dalam perkembangan manusia.

Sebenarnya kata “حضارة” sudah dipakai oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya. Namun kata “hadharah” di sini belum dipakai untuk menunjukkan sebuah peradaban yang memiliki definisi kompleks seperti di atas. Kata “hadharah” digunakan Ibnu Khaldun untuk menunjukkan lawan dari pola hidup yang berpindah-pindah, atau yang disebut dengan البداوة. Sedangkan untuk menunjukkan sebuah peradaban, Ibnu Khaldun menggunakan istilah “umran”.

Dr. Muhammad Imarah dalam bukunya Al-Islam wa At-Ta’addudiyah mengatakan bahwa istilah “umran” dalam turats kita yang dulu itu adalah istilah “hadharah” dalam turats kita yang baru. Selanjutnya Dr. Imarah mendefinisikan peradaban sebagai kumpulan dari tamadun dan budaya, serta akumulasi dari perkotaan yang di dalamnya terdapat realitas fisik dan jiwa manusia yang dapat memberikan kemajuan pada manusia itu sendiri.

Pendapat-pendapat dari pemikir Muslim tentang definisi hadharah memang juga terdapat keragaman. Bahkan pendefinisian yang berkembang dalam pemikiran Islam atau dalam terminologi bahasa Arab bisa dikatakan sedikit rumit jika dibandingkan dengan terminologi bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris hanya terdapat dua istilah yang berkembang, yaitu civilization dan culture. Sedangkan dalam bahasa Arab, terdapat tiga istilah yang berkembang untuk menunjukkan peradaban dan kebudayaan, yaitu tsaqafah, hadharah, dan madaniah.

Secara singkat bisa disimpulkan sebagai berikut: Pertama, siapa yang menerjemahkan istilah culture sebagai tsaqafah, maka berarti menerjemahkan civilization sebagai hadharah. Kedua, siapa yang menerjemahkan culture sebagai hadharah, maka ia menerjemahkan civilization sebagai madaniyah. Bagi pendapat pertama, berarti ia telah menjadikan tsaqafah sebagai elemen intelektual dalam kehidupan manusia, dan hadharah sebagai elemen fisik atau materinya. Sedangkan pendapat kedua telah menjadikan hadharah sebagai elemen intelektual dan madaniyah sebagai elemen fisik atau materinya.

Sementara itu dalam bahasa Indonesia, istilah “peradaban” sering kali digunakan untuk menunjukkan civilization atau hadharah. Kata “peradaban” berasal dari kata “adab”, yang artinya kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, atau akhlak. Ketika kata “adab” ini mendapat imbuhan per- dan -an menjadi “peradaban”, maka diartikan sebagai: Pertama, kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin. Kedua, hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa.

Dari sekian banyak pendapat dan perkembangan-perkembangan definisi tadi, setidaknya kita dapat mengambil garis lurus untuk dapat menggambarkan istilah “peradaban”. Garis lurus tersebut yaitu kemajuan, moral, intelektual dan fisik atau materi. Karena dalam definisinya yang berkembang, peradaban sering kali dikaitkan dengan ketiga unsur tersebut.

Peradaban dalam Islam

Dalam terminologi bahasa Arab, kata hadharah berasal dari kata حضر yang artinya شهد من الحضور, atau berlawanan dengan kata ghaib. Dalam Al-Qur’an, kita juga akan menemukan kata hadhara bermakna syahada. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 180 ( إذا حضر أحدكم الموت ), dalam surat An-Nisa ayat 8 ( وإذا حضر القِسمَةَ أُولُوا القُربى ), dalam surat Al-Baqarah ayat 185 ( فمن شهد منكم الشهر فليصمه ). Dalam kandungan ketiga ayat tadi, makna hadhara berarti syahada.

Prof. Dr. Nasr Muhammad Arif menjelaskan bahwa kata syahadah dalam Al-Qur’an mengandung empat artian. Keempat artian inilah yang sebenarnya membangun istilah hadharah dalam Islam. Keempat artian ini tidak dapat berdiri sendiri dalam menyokong konsep peradaban Islam, namun semuanya saling melengkapi. Keempat artian tersebut adalah sebagai berikut: 1) Syahadah dalam artian tauhid kepada Allah. Artian ini mengandung kesaksian manusia terhadap keesaan Allah. Makna ini adalah sebagai akidah umat Islam. Di bawah makna ini manusia harus tunduk dengan segala aturan Allah; 2) Syahadah dalam artian perkataan (kesaksian) yang benar dan jalan untuk menuju keadilan. Atau bisa juga berarti kesaksian yang didasarkan dengan ilmu. Dengan demikian ini merupakan jalan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan; 3) Syahadah dalam artian pengorbanan di jalan Allah; 4) Syahadah dalam artian kewajiban atau tugas untuk umat. Ini senada dengan kandungan Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat 143 ( وكذلك جَعَلنكم أُمّة وسطا لتكونوا شُهداء على الناس و يكون الرسول عليكم شهيدا ).

Arti syahadah di sini mencakup dua dimensi, dunia dan akhirat. Oleh karena itulah, konsep peradaban dalam Islam tidak bisa dikotomi antara dua dimensi ini. Peradaban dalam Islam memiliki pola yang bersifat keduniawian seperti kemajuan, inovasi, pembangunan, kesenian dan lain sebagainya. Dan di samping itu juga memiliki pola yang sifatnya keakhiratan seperti keyakinan, nilai-nilai, pemikiran, tingkah laku atau akhlak dan lain sebagainya. Kedua pola ini tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Jadi, pengistilahan peradaban akan tidak sempurna jika salah satu pola ini tidak ada.

Menurut Malik bin Nabi, di saat peradaban Barat terlalu memfokuskan perhatian mereka kepada kemajuan materi dan pemikiran, maka peradaban Islam menjadikan akidah tauhid sebagai fokus utama peradabannya. Malik bin Nabi mendampingkan definisi peradaban Islam dengan unsur-unsur utama yang membentuknya. Di antara unsur-unsur pembentuk itu adalah manusia, waktu dan tanah. Unsur manusia adalah unsur pembentuk terbesar dalam sebuah peradaban, termasuk peradaban Islam. Dalam hal ini tentunya kualitas manusia atau individu akan menentukan kualitas peradaban yang dibangunnya.

Dalam setiap individu Muslim yang berperan sebagai unsur utama dalam peradaban, sudah semestinya tertanam konsep tauhid yang menjadi fokus utama peradaban Islam tadi. Jadi, peradaban Islam adalah peradaban yang memiliki konsep tauhidi, yang meniadakan dikotomi antara fisik dan ruhani, atau dunia dan akhirat. Sedangkan asal mula konsep tauhid ini adalah keimanan kepada Allah. Maka, sebenarnya peradaban Islam tidak hanya dibangun oleh unsur manusia saja, namun yang paling penting adalah unsur yang ada di dalam diri manusia itu sendiri, yaitu keimanan. Dengan demikian, peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari unsur Tuhan.

Epistemologi dan Sumber Peradaban Islam

Dalam epistemologi Islam, sumber pengetahuan utama adalah Allah, atau yang dalam hal ini adalah wahyu. Pengetahuan yang bersumber dari Allah tersebut dapat diperoleh melalui indera yang sehat, berita yang benar berdasarkan otoritas, akal sehat dan hati. Indera yang sehat ini mencakup indera luar dan indera dalam. Akal sehat pada dasarnya berfungsi untuk mengolah apa yang diterima oleh indera tadi. Apa yang diterima oleh indera akan dinilai oleh akal sehat sesuai dengan tingkat kelogisannya. Namun sebenarnya fungsi akal tidak sebatas sampai di situ saja. Akal sendiri sejatinya adalah substansi spiritual yang inheran dengan organ spiritual yang biasa kita sebut dengan hati, yang mana berfungsi sebagai penerima pengetahuan intuitif. Jadi, pada intinya akal dan intuisi selalu berhubungan dan tidak ada dikotomi antara keduanya.

Meski terjadi perbedaan dalam cara memperoleh pengetahuan, namun pada dasarnya semuanya pengetahuan itu berasal dari satu sumber, yaitu Allah. Dalam hal ini Al-Qur’an telah menjelaskan: “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS. Al-Baqarah: 31).

Sumber pengetahuan yang berasal dari Allah tadi ditransfer kepada manusia dalam bentuk wahyu. Dalam Islam, wahyu Allah tertuang di dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasul. Kedua sumber ini yang selanjutnya menjadi landasan utama dalam epistemologi Islam sekaligus peradaban Islam. Kedua sumber ini banyak menginspirasikan lahirnya ilmu-ilmu. Sebagai contoh, Allah berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 1-5).

Dr. Abdul Halim Uwais menyebutkan bahwa peradaban Islam memiliki tiga sumber utama, yaitu: Al-Qur’an, Sunnah dan Akidah Islam.

Dari asas di atas, terlihat bahwa dalam peradaban Islam tidak ada jurang pemisah antara manusia yang menjadi unsur pembangun peradaban dengan Tuhan sebagai sumber peradabannya. Sumber peradaban Islam sejalan dengan sumber pengetahuan yang dibahas dalam epistemologi Islam. Selanjutnya, sumber ini juga menjadi cikal bakal terbentuknya pandangan hidup Islam. Dari sini jugalah bermula segala kemajuan peradaban Islam yang ditandai dengan berkembang pesatnya tradisi keilmuan.

Worldview dan Asas Peradaban Islam

Berkembangnya peradaban Islam sampai selanjutnya mencapai puncak kejayaan ditandai dengan lahirnya ilmu-ilmu dalam Islam. Lahirnya ilmu dalam Islam itu tidak serta merta ada sebelum didahului oleh tradisi keilmuan yang kuat. Tradisi keilmuan ini bisa berkembang lantaran dilandasi oleh worldview Islam yang mengakar pada setiap individu pelaku intelektual. Dengan demikian tradisi keilmuan tidak lantas menggerogoti ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Terbentuknya worldview Islam ini tidak dapat terpisahkan dari kandungan Al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi landasan utamanya. Turunnya wahyu yang dalam hal ini Al-Qur’an dan Sunnah serta lahirnya worldview Islam, menjadi bagian utama sebab lahirnya ilmu dalam Islam. Dengan kelahiran ilmu dan perkembangannya ini, selanjutnya menandai kegemilangan peradaban Islam.

Konsep worldview Islam dibangun atas pendekatan tauhidi, tanpa adanya dikotomi. Ini sejalan dengan asas yang membangun peradaban Islam itu sendiri, seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Ahmad Fuad Basha. Menurutnya, asas bangunan peradaban Islam adalah tidak adanya dikotomi antara agama dengan kehidupan. Begitu juga kemajuan dalam peradaban Islam, tidak ada dikotomi antara kemajuan maknawi seperti akhlak, abad dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari agama dan syariat Islam itu sendiri, dengan kemajuan fisik atau materi seperti halnya fasilitas-fasilitas yang dapat mempermudah kehidupan manusia.

Prof. Dr. Ahmad Fuad Basha menggariskan asas pembangun peradaban Islam itu sebagai berikut:

1.        Bangunan individu Muslim. Individu ini menjadi asas pertama dalam membangun peradaban Islam. Ini akan dapat tercapai jika adanya keseimbangan di antara sisi materi dan ruhani dalam diri setiap individu Muslim. Dari setiap individu inilah nantinya terlahir sebuah pola kehidupan yang seimbang pula antara materi dan ruhani. Sebagai contoh, setiap Muslim berkewajiban untuk selalu menyuruh kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyerukan kepada kebajikan, menyuruh(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

2.        Bangunan komunitas yang seimbang. Bangunan individu yang memiliki keseimbangan antara materi dan ruhani tadi selanjutnya menjadi cikal bakal komunitas yang juga seimbang. Dalam hubungannya yang seimbang antara individu dengan komunitas ini, akan terdapat berbagai macam hak dan kewajiban. Dan dari korelasi keduanya ini juga akan melahirkan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan manusia. Mengenai komunitas yang seimbang ini, Al-Qur’an telah menjelaskan: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7-9).

3.        Menempatkan ilmu dalam posisi yang spesial dan penerapannya dalam perbuatan yang bermanfaat. Ilmu yang dianjurkan oleh agama Islam adalah ilmu yang komprehensif, mencakup ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum atau materi. Namun terdapat syarat yang menjadikan dianjurkannya pendalaman ilmu-ilmu tersebut, yaitu syarat manfaat. Standar yang digunakan dalam manfaat ini adalah kemaslahatan umat dan untuk menegakkan agama Islam.

4.        Penanaman nilai-nilai kemajuan peradaban. Salah satu yang terpenting dalam bangunan peradaban Islam adalah penetapan sistem nilai-nilai yang mempengaruhi kehidupan manusia serta tingkah lakunya. Dalam hal ini, sangat jelas sekali fungsi agama dalam kehidupan manusia. Dalam agama Islam, firman Allah dan Sunnah Rasul menjadi pegangan utama untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, sesuatu yang boleh dan haram, dan lain sebagainya.

Dari keempat asas yang membangun peradaban Islam tadi, semuanya tidak terlepas dari konsep worldview Islam yang melalui pendekatan tauhidi. Peradaban Islam memang tidak dapat dipisahkan dari konsep tauhid yang ada dalam Islam itu sendiri. Konsep tauhid ini merupakan cara pandang yang utuh yang tanpa dikotomi dalam memandang sesuatu. Worldview itu tertanam pada setiap individu Muslim. Yang selanjutnya dari setiap individu tersebut membentuk komunitas. Dan dari situlah sebenarnya peradaban Islam itu bisa terbangun dan menjadikannya berbeda dengan peradaban-peradaban lainnya. Jadi, peradaban Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan worldview Islam itu sendiri.

Kesimpulan

Peradaban Islam sekarang ini memang masih tertidur. Aromanya sedikit tertutupi oleh gemerlapnya peradaban Barat. Peradaban Barat saat ini terlihat begitu gagah dengan kemajuan materi yang mereka capai. Kemajuan yang dicapai Barat tersebut tidak lepas dari pesatnya perkembangan kegiatan ilmiah yang tertuang dalam penelitian-penelitiannya. Sementara umat Islam masih belum menemukan geliat dahsyat gerakan ilmiahnya kembali seperti halnya yang dirasakan oleh Ibnu Khaldun, Ibnu Rusy, Ibnu Sina dan ulama-ulama lainnya yang menandai puncak kegemilangan peradaban Islam.

Namun seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Ali Gomaa Muhammad, peradaban Islam yang tertidur itu pasti akan bangun lagi dari tidurnya. Sekarang perlahan-lahan geliat untuk membangkitkan peradaban Islam yang tertidur itu mulai muncul. Salah satu gerakan yang terlihat jelas adalah proyek islamisasi pengetahuan. Karena gerakan keilmuan yang pesat merupakan cikal bakal kemajuan peradaban.

Islamisasi pengetahuan muncul di tengah persinggungan peradaban Islam dan Barat yang semakin intens. Persinggungan antar peradaban memang tidak dapat dihindari. Sudah menjadi hukum alam peradaban yang terbelakang akan melek melihat peradaban yang maju. Akulturasi peradaban pun bisa saja terjadi. Di tengah akulturasi tersebut itulah sangat dibutuhkan sekali bangunan konsep peradaban yang kuat, agar dapat melakukan proses filterasi, bukan adopsi yang membabi buta. Begitu juga dengan islamisasi pengetahuan. Proyek ini akan dapat berjalan dengan lancar jika di bawahnya dibangung konsep peradaban Islam yang kokoh. Wallahu’alam.*

‘Ismail-Ismail’ Jaman Ini…






Di tengah konflik perang saudara Somalia, seorang ibu muda yang trauma karena suaminya menjadi korban keganasan perang memutuskan untuk mengungsi dari negerinya dan membawa serta tiga orang putranya.  Ibu muda yang cukup terpelajar dan mampu dengan baik berbahasa Inggris ini akhirnya dapat tinggal dan bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Inggris. Ketika si sulung – panggil saja Karim - sudah mulai beranjak dewasa, dia ingin meringankan beban berat yang ditanggung ibunya dengan cara bekerja sebagai tukar semir sepatu di sebuah stasiun kereta bawah tanah di pusat kota London.
Setiap hari dia menyerahkan seluruh penghasilannya ke ibunya untuk dikelola barsama, sehingga mereka semua bisa survive di kota yang terkenal mahalnya biaya hidup tersebut. Penghasilan mereka selalu habis untuk kebutuhan makan, menyewa flat sederhana dan membeli baju hangat agar tidak kedinginan di musim dingin.
Suatu hari Karim ingin mencoba sesekali makan enak di restoran yang hampir setiap hari dilaluinya ketika berangkat bekerja. Maka sepulang kerja, lengkap dengan tas kotak semir sepatunya – dia masuk restoran yang selama ini hanya bisa dia bayangkan rasa masakannya.
Cilakanya di restoran-restoran Inggris, di buku menu tidak selalu mencantumkan harga makanannya. Ini karena sebagian orang Inggris – yang terkenal aristocrat-nya memandang tidak sopan untuk memilih menu berdasarkan harganya, ini dianggap bisa menyinggung tamunya.
Ketika Karim melihat menu tersebut – karena duitnya yang pas-pasan – yang pertama dia lakukan justru menanyakan harganya kepada pelayan restoran yang menghampirinya. Dilihatnya menu sirloin steak  dengan gambar yang lezat, kemudian bertanya kepada pelayan, “yang ini berapa harganya ?”. Pelayan menjawab “yang ukuran medium,  harganya 35 Pounds”.
Terkejut bukan kepalang si Karim ini karena penghasilannya setiap hari jarang  mencapai 35 Pounds (sekitar Rp 500,000 sekarang !),  dia mengambil seluruh uang koin penghasilan hari itu dari kantongnya dan mengeluarkan di meja kemudian menghitungnya. Sementara dia menghitung, si pelayan menungguinya dengan tidak sabar.
Selesai menghitung, dia bertanya kembali ke si pelayan, “kalau yang small size, berapa harganya ?”. Si  pelayan menjawab dengan ketus dan dengan nada merendahkan “yang small size masih juga mahal, 25 Pounds”.  Meskipun masih sangat mahal untuk ukuran Karim, dia malu untuk tidak jadi makan di restoran tersebut, akhirnya dia bilang “baik, saya pesan yang itu ! 
Selesai makan, Karim membayarnya dan pulang. Ketika pelayan mau membersihkan mejanya, dia kaget sekali ternyata Karim meninggalkan tip sebesar 10 Pounds untuk si pelayan – jumlah tips yang jarang diberikan oleh tamu-tamu dia yang parlente sekalipun.
Si pelayan sampai menangis haru dan merasa sangat bersalah karena telah men-judge orang berdasarkan tampilannya. Tidak habis pikir pula bagi si pelayan ini, bagaimana tamunya yang kumal tadi rela untuk tidak jadi memesan makanan yang diinginkannya padahal uangnya sebenarnya cukup, dan menggantinya dengan ukuran yang lebih kecil hanya supaya dia bisa menyisihkan tip yang baik untuk dia yang melayaninya.
Ternyata bukan sekali ini saja perilaku Karim mengejutkan logika orang Inggris yang sok paling beradab itu. Suatu hari ibunya sakit dan memerlukan transfusi darah, dan tentu saja tidak mudah mencari darah yang cocok untuk Ibu Karim yang berasal dari Somalia di Inggris.
Harapan satu-satunya adalah dari darah anak-anaknya, tetapi adik-adik Karim masih kecil - jadi harapannya tinggal darah dari Karim. Dokter yang menanganinya kemudian mengajak bicara Karim bahwa ibunya perlu darah dan darah Karim-lah yang bisa menolongnya. Tanpa berpikir panjang Karim-pun langsung mau darahnya diambil untuk ibunya.
Setelah ditidurkan disamping ibunya untuk mulai diambil darahnya, Karim memandangi wajah ibunya yang pucat pasi sambil tersenyum bangga, setengah berbisik dia menyampaikan ke ibunya “Umi akan tetap hidup untuk adik-adik”.  Ibunya-pun menjawab lirih sambil meneteskan air mata “Umi sangat bangga kepadamu nak…”.
Setelah itu Karim memandangi wajah dokter yang akan mulai mengambil darahnya, dia kemudian berkata “Apakah sudah waktunya saya akan segera mati dokter ?”. Dokternya kaget dengan pertanyaan ini, kemudian balik bertanya : “Apa maksudmu dengan segera mati ?”.
Karim berusaha menjelaskan : “Bukankah ketika dokter minta darah saya untuk diberikan ke ibu saya dokter akan mengambil seluruh darah saya untuk diberikan ke ibu, sehingga ibu saya bisa diselamatkan hidupnya dengan itu, dan saya akan mati sesudah itu?.”
Dokter sangat terkejut dengan jawaban ini, dia kemudian memberondong Karim dengan pertanyaan-pertanyaan “jadi kamu tadi mengira bahwa darah kamu yang akan diambil adalah seluruhnya ?, kalau itu tadi yang kamu pikirkan, mengapa kamu langsung mau menyerahkan seluruh darahmu untuk ibumu ?”.
Dengan lugunya Karim-pun menjawab : “betul dokter, aku tadi kira begitu – dan tentu aku mau menyerahkan seluruh darahku bila itu yang ibuku perlukan untuk bertahan hidup”.
Masih nggak habis pikir, dokter-pun berusaha memahami logika Karim : “Bukankah hidupmu lebih penting dari ibumu, kalau toh harus memilih ? engkau masih muda, engkau memiliki harapan masa depan ? ”. Diluar dugaan dokter, Karim-pun menjawab dengan tenang : “Ibuku punya tiga anak, kalau aku mati – ibuku masih mempunyai dua anak yang akan menghiburnya. Sedangkan kami bertiga hanya mempunyai satu ibu, kalu ibu kami mati – siapa lagi yang bisa menghibur kami ?”.
Dokter wanita yang menangani Karim dan ibunya ini akhirnya kehabisan kata-kata. Dengan mata yang berkaca-kaca dia berusaha memahami pengorbanan seorang anak yang rela kalau toh harus mati menyerahkan seluruh darahnya untuk menyelamatkan ibunya ini.
Karim adalah representasi ‘Ismail-Ismail’ jaman ini yang rela menyisihkan penghasilannya untuk orang lain, rela berkorban maksimal untuk orang yang dicintainya. Barangkali bukan hanya Karim ‘Ismail-Ismail’  jaman ini,  bisa juga ada di sekitar kita atau bahkan ada pada diri kita.
Bila kita rela berkorban untuk orang lain, bila kita rela menyisihkan seberapapun gaji kita – sebagiannya ditabung untuk bisa ber-qurban setiap tahunnya – agar orang lain bisa ikut merasakan jerih payah kita.
Bila kita rela mengorbankan kesenangan liburan kita untuk menghibur Ibu yang selalu merindukan kunjungan kita, bila kita rela bangun di malam yang dingin untuk selalu bisa mendoakannya…
Bukan hanya Karim, insyaAllah kita semua-pun bisa menjadi ‘Ismail-Ismail ‘ jaman ini, bila kita rela mengutamakan orang lain walau diri kita sendiri dalam kesusahan!.