Hidayatullah.com--Maraknya
bisnis prostitusi yang melibatkan pelajar di Kota Tarakan mengundang
keprihatinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan. MUI meminta
Pemkot Tarakan serius mengatasi persoalan ini.
Ketua I MUI Tarakan, Syamsi Sarman mengatakan, prostitusi ABG ini sangat mencemaskan banyak orang tua. "Karena aksinya yang dilakukan secara terselubung, takutnya anaknya terlibat, sementara mereka (orang tua) tidak mengetahui,” ujar Syamsi Sarman yang juga ketua PD Muhammadiyah Kota Tarakan dikutip JPPN, Kamis (24/11/2011).
Untuk itu, lanjut dia, MUI Tarakan meminta ada langkah-langkah konkrit dari Pemerintah Kota Tarakan dan aparat kepolisian untuk mengatasi persoalan ini.
“Mungkin bisa dilakukan kembali razia gabungan yang melibatkan
Polres, Kodim, Dinas Pendidikan dan Satpol PP. Ini yang kami usulkan
dalam pembahasan internal di MUI Tarakan,” kata Syamsi. Jika hal
tersebut kembali dilakukan, lanjut dia, persoalan prostitusi yang
terjadi di kota ini, termasuk yang melibatkan kalangan pelajar sedikit
banyak dapat diantisipasi. Walaupun itu terkesan lambat. “Kita kan tahu
jam-jam sekolah, diusahakan jam-jam sekolah itu tidak ada siswa yang
keliuran. Nah di waktu itulah perlu dilakukan razia dari intansi
terkait,” sarannya. Termasuk razia di luar jam sekolah khususnya di
tempat-tempat hiburan. Selain itu, langkah lainnya, MUI
mengusulkan agar pembinaan terutama di sekolah perlu diefektifkan
kembali khususnya peningkatan siraman rohani keagamaan kepada siswa. “Penerapan
hukum juga perlu diperhatikan. Seperti tempat hiburan termasuk hotel
jika ditemukan kasus seperti ini setidaknya harus ditindak secara tegas
dengan ancaman izinnya dicabut,” tandasnya. Syamsi menilai,
praktik prostitusi yang melibatkan pelajar ini sudah berlangsung lama
yang dilakukan oleh oknum di luar sekolah. “Hal ini terjadi mungkin dari
adanya pendekatan si korban, pertama kepada temannya satu dua orang
sehingga berkembang. Karena modus seperti ini di sekolah Muhammadiyah
sempat kita temukan, namun mengarah pada perbuatan asusila yang
dilakukan seorang siswi dan akhirnya diberhentikan dari sekolah,” beber
Syamsi. “Kalau kasus seperti ini kita harus tegas, sebab ini
sama dengan narkoba karena akan menjangkit ke temannya yang dipicu
karena gaya hidup sekarang,” pungkasnya. Tak hanya persoalan prostitusi
yang melibatkan anak sekolah, MUI juga berharap semua praktik haram
seperti ini bisa hilang dari Tarakan. Baik itu berupa call girl (gadis
panggilan), lokalisasi terselubung maupun praktik prostitusi lainnyaKetua I MUI Tarakan, Syamsi Sarman mengatakan, prostitusi ABG ini sangat mencemaskan banyak orang tua. "Karena aksinya yang dilakukan secara terselubung, takutnya anaknya terlibat, sementara mereka (orang tua) tidak mengetahui,” ujar Syamsi Sarman yang juga ketua PD Muhammadiyah Kota Tarakan dikutip JPPN, Kamis (24/11/2011).
Untuk itu, lanjut dia, MUI Tarakan meminta ada langkah-langkah konkrit dari Pemerintah Kota Tarakan dan aparat kepolisian untuk mengatasi persoalan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar